TIRTOYUDO — Puncak pengarahan dalam acara pelantikan pengurus MWCNU, Ranting NU, dan PAC IPNU-IPPNU se-Kecamatan Tirtoyudo, Ahad (27/09/2026), disampaikan langsung oleh perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang. Kehadiran perwakilan PCNU ini sekaligus mewakili Ketua PCNU K.H. Hamim yang sedang berhalangan hadir karena menunaikan ibadah umrah usai kelelahan mengawal Muktamar.
Mengawali arahannya dengan pepatah Jawa yang khas, perwakilan PCNU menyuntikkan semangat kerja kepada para pengurus baru. "Manuk gelatik cucuke abang, mari dilantik terus tandang," ucapnya, yang bermakna bahwa setelah resmi dilantik, pengurus harus segera tancap gas bekerja (tandang) menjalankan roda organisasi.
Lebih lanjut, PCNU Kabupaten Malang menitipkan 4 (empat) pesan fundamental yang harus dipegang teguh oleh seluruh pengurus Nahdlatul Ulama di Tirtoyudo masa khidmat 2026-2031:
1. Lakukan Konsolidasi Masif
Langkah pertama pasca pelantikan adalah konsolidasi. PCNU menekankan pentingnya merapatkan barisan secara internal di antara pimpinan MWC (antara Syuriah, Tanfidziyah, dan lembaga-lembaga), begitu pula di tingkat Ranting. Selain itu, konsolidasi eksternal dan lintas sektoral bersama pemerintah tingkat desa hingga kecamatan wajib diperkuat untuk menyukseskan program-program keumatan.
2. Perkokoh Khittah An-Nahdliyah dan NKRI Harga Mati
PCNU mengingatkan bahwa tantangan memelihara ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah semakin berat, terlebih banyak pihak luar yang mencoba menggerogoti NU. NU dipandang sebagai pilar penting bangsa karena merupakan ormas Islam terbesar yang paling tegas mengusung prinsip "NKRI Harga Mati".
"Tanggung jawab kita di samping komitmen keagamaan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah, juga komitmen kebangsaan. Ini penting kita dukung dan bersamai."
Sebagai bekal, setiap pengurus ditekankan wajib (fardu ain) memiliki dan mengkaji buku AD/ART serta Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU agar memiliki pendirian kokoh dan tidak mudah "kagetan" menghadapi masalah organisasi.
3. Ikhlas Berjuang dan Barokah K.H. Hasyim Asy'ari
Menjadi pengurus NU dituntut keikhlasan tanpa pamrih. Perwakilan PCNU menyadari bahwa berjuang di daerah seperti Tirtoyudo memiliki medan tantangan yang lebih berat dibandingkan daerah lain (seperti Turen). Namun, hal itu justru diyakini mendatangkan pahala yang jauh lebih besar.
Beliau memotivasi hadirin dengan mengutip doa muassis NU, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy'ari: "Siapa yang mau mengurusi NU, aku anggap ia santriku. Siapa yang menjadi santriku, aku doakan husnul khatimah beserta anak-cucunya." Doa inilah yang menjadi pegangan utama para kader NU agar memiliki keturunan yang saleh dan salihah.
4. Tetap Tenang dan Jangan Terprovokasi Dinamika Luar
Pesan terakhir berkaitan dengan dinamika organisasi dan informasi pasca-Muktamar. PCNU menginstruksikan agar pengurus di tingkat bawah (MWC dan Ranting) tetap fokus berkhidmat dan tidak ikut campur atau terprovokasi oleh isu-isu simpang siur maupun perang media sosial yang berpotensi memecah belah persatuan warga NU.
"Tidak usah ikut-ikut mengurus hal-hal di luar sana yang tidak jelas. Yang penting kita ikhlas memperjuangkan agama Islam di bawah bendera yang dibawa oleh K.H. Hasyim Asy'ari," pesannya.
Di akhir arahannya, PCNU juga menyampaikan informasi penting terkait persiapan Musyawarah Kerja (Musker) PCNU ke-3 yang akan dilaksanakan pada awal Oktober di Pesantren Al-Munawwariyyah, serta agenda Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kabupaten Malang pada pertengahan November mendatang. Seluruh pengurus diharapkan terus menjaga kekompakan dan kondusivitas organisasi.